Rabu, 07 November 2012

Hakikat Manusia Dalam Pandangan Dunia Modern



Hendry STT
Hakekat Manusia Dalam Pandangan Dunia Modern
          Pengantar
          Manusia adalah mahluk yang unik. Hidup sebagai manusia tidaklah berarti kita bisa dengan mudah mengetahui siapakah diri kita sebenarnya. Sebagai mahluk yang diberi kemampuan untuk bertanya, kita juga selalu bertanya tentang siapakah kita, siapakah manusia itu sebenarnya ?  Ada banyak pandangan tentang manusia, ada banyak teori, dan ada banyak versi dari berbagai pemikiran ahli-ahli filsuf, teolog-teolog dan para ilmuwan yang ingin menjelaskan tentang manusia itu sendiri kepada kita, kendatipun kita juga adalah manusia. Pada pembahasan materi hari ini kelompok kami akan menguraikan tentang manusia itu dari berbagai pandangan aliran filsafat, teori-teori, dan uraian tentang manusia itu sendiri dalam lingkungan sosial, yang pada akhirnya nanti kami akan memberikan evaluasi tentang bagaimana manusia itu dilihat dari sudut pandang teologis iman Kristen.
1.      Manusia Dalam Pandangan Berbagai Aliran Filsafat
Ada bermacam-macam pandangan aliran filsafat, yang termasuk didalamnya ialah beberapa pemokiran dari beberapa ahli fikir dan filsuf-filsuf. Diantaranya ialah sbb :
Ø  Manusia adalah Homo Faber, artinya makhluk yang terampil. Dia pandai membuat perkakas   atau disebut juga Toolmaking Animal yaitu binatang yang pandai membuat alat-alat.
Ø  Manusia adalah Zoon Politicon, yaitu makhluk yang pandai bekerjasama, bergaul dengan orang lain dan mengorganisasi diri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ø  Manusia adalah Homo Religious, yaitu makhluk yang beragama. Dr. M. J. Langeveld seorang tokoh pendidikan bangsa Belanda, memandang manusia sebagai Animal Educadum dan Animal Educable, yaitu manusia adalah makhluk yang harus dididik dan dapat dididik. Oleh karena itu, unsur rohaniah merupakan syarat mutlak terlaksananya program-program pendidikan.[1]
Beberapa pandangan diatas merupakan beberapa dari sekian banyak pemahaman atau pemikiran filsafat yang lainnya tentang manusia yang tidak dimuat dalam tulisan kelompok kami.  Upaya pemahaman dan pemikiran tentang hakekat manusia diatas sudah dilakukan sejak dahulu. Namun, hingga saat ini belum mendapat pernyataan yang benar-benar tepat dan pas, dikarenakan manusia itu sendiri yang memang unik, antara manusia satu dengan manusia lain berbeda-beda. Dengan demikian sangatlah wajar bila pemahaman tentang manusia itupun berbeda-beda.

2.      Manusia Menurut Teori Darwin
Teori utama Darwin bahwa spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies lain yang hidup di masa lampau dan bila diurut lebih lanjut semua spesies makhluk hidup diturunkan dari nenek moyang umum yang sama termasuk juga manusia. Darwin mengatakan bahwa suatu spesies mengalami perubahan secara perlahan-lahan ( evolusi ) yang akhirnya membentuk mahluk lain dengan penurunan sifat-sifat yang diperlukan.[2]
            Darwin dalam teori evolusinya mengatakan bahwa manusia adalah keturunan kera antrpoid. Teori itu berusaha ia buktikan dengan argumen akan kesamaan struktural antara manusia dan hewan yang tingkatannya tinggi. Teori Darwin tentang evolusi kera ke manusia inipun mendapat kekuatan bagi para penganut teori tersebut dengan ditemukannya kerangka manusia yang berupa fosil-fosil dengan kerangka yang memipih dan pelipis yang menonjol pada tahun 1856 di Nander, dekat Dusseldorf, Jerman. Penganut-penganut teori Darwin menyatakan penemuan ini sebagai mata rantai antara manusia dan kera. Lalu pada tahun 1890 Eugene Dubois menemukan di Jawa sebuah species penemuan baru Pithecanthropus erectus ‘manusia kera yang tegak’. Di sebuah gua di dekat Peking, Cina, di temukan pula Sinanthropus Pekinensis dengan ukuran otak yang hanya setengah kali otak manusia.  Kemudian ditemukan lagi banyak fosil-fosil manusia kera yang membuat para ahli evolusi yakin bahwa penemuan ini merupakan mata rantai yang menghubungkan manusia-kera dengan manusia yang sebenarnya.
Namun teori ini memiliki banyak kelemahan yang di pertentangkan kebenarannya. Karena pada kenyataanya garis keturunan antara manusia-kera dengan manusia-modern itu sama sekali tidak diketahui. Seperti keyakinan umum pada zaman sekarang ini, Homo sapiens sudah ada pada masa awal Pleistosen yang dimulai pada awal zaman es. Homo sapiens hanya merupakan salah satu dari sejumlah type lain.
Alasan mengapa manusia-kera dan sebagainya itu tidak mungkin menjadi nenek moyang kita, ialah karena peninggalan atau fosil tulang-belulang manusia ditemukan di lapisan-lapisan geologis pada tingkat yang sama atau di bawahnya. Tengkorak manusia paling tua yang dikenal dalam ilmu pengetahuan, ialah yang ditemukan di Calavaras, Amerika Utara, dan hasil penemuan di Castinedolo, Italia[3]

3.      Manusia dan Ilmu Pengetahuan
Manusia adalah mahluk yang sesungguhnya “lebih” dari ciptaan yang lain, kendatipun ia tidak juga bisa dipisahkan dari yang lain-lain tersebut. Manusia dikatakan lebih karena ia diberikan otak yang lebih bisa untuk berfikir dan mampu berkarya menciptakan atau membuat sesuatu.[4] Dengan kemampuannya tersebut manusia bisa menciptakan teori-teori, pemahaman-pemahaman tentang segala sesuatu yang menyangkut ciptaan yang lain dan juga tentang dirinya sendiri, itulah yang kemudian akhirnya disebut sebagai ilmu pengetahuan. Manusia yang memiliki kemampuan lebih untuk berfikir akhirnya bisa menciptakan berbagai macam ilmu dan pengetahuan yang kemudian untuk digunakan dalam menjalani hidup bersama ciptaan atau mahluk hidup lain di muka bumi ini. Dampak dari ilmu pengetahuan secara umum dan dilihat dari segi keseluruhan rupanya bersifat positif. Pengetahuan manusia tentang dunia dan dirinya sendiri semakin bertambah dengan kemampuannya menciptakan ilmu pengetahuan. Tanpa ilmu pengetahuan gejala-gejala yang muncul di dunia ini hanya dapat dipahami secara samar-samar saja.[5] Manusia dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin maju akan sangat dimudahkan dengan teknik-teknik yang dihasilkan itu. Dengan adanya ilmu pengetahuan maka situasi manusia lebih baik dari mahluk hidup yang lain.
Tetapi ada juga dampak negatif dari ilmu pengetahuan tersebut. Paling mudah kita melihat adalah pengaruhnya terhadap lingkungan hidup. Ada kemungkinan bahwa lingkungan hidup makin diracuni dengan bahan kimia melalui limbah industri, sehingga akhirnya pertumbuhan kehidupan di tempat-tempat tertentu sudah tidak mungkin lagi. Dampak negatif lain juga datang dalam bentuk cara berfikir manusia sekarang ini yang cenderung bisa merugikan dirinya sendiri.
Dari fakta-fakta diatas, kita secara sederhana dapat melihat bahwa manusia yang dikaruniakan cara berfikir yang lebih dari mahluk lain telah menciptakan suatu hal besar, yakni ilmu pengetahuan bukan sebaliknya. Ilmu pengetahuan diciptakan oleh manusia untuk lebih mudah meresapi alam, lingkungan sosialnya dan dirinya sendiri. Jadi sebagai seorang manusia pandai-pandailah kita menyikapi ilmu pengetahuan yang telah kita buat tersebut.

4.      Manusia Sebagai Mahkluk Sosial
Sedari kecil manusia sudah menjadi bagian suatu dunia bersama, yakni melalui pergaulan. Pada seorang bayi pengaruh pergaulan masih belum begitu nyata; si bayi itu sebagian besar mengikuti perangsang biologis dan emosional. Tetapi berkat pergaulan dengan ibu, kemudian juga dengan ayah, saudara, tetangga, guru-guru anak itu belajar bergaul dengan cara yang khas bagi kelompok yang di dalamnya ia dibesarkan. Belajar hidup bersama dalam suatu kelompok yang disebut proses sosialisasi.
Proses sosialisasi berlangsung melalui suatu komunikasi yang intensif dengan adat-istiadat dan nilai-nilai kebudayaan yang dipegang oleh orang yang hidup bersama dalam suatu kelompok tertentu. Tiap-tiap orang lahir dalam suatu kelompok tertentu dan menjadi mahkluk sosial dengan menurut tradisi kelompok tersebut.[6]
Diatas merupakan suatu fakta bahwa manusia hidup berdampingan dengan orang lain dan seluruh ciptaan yang lain. Manusia tidak hidup bergantung dengan dirinya sendiri tetapi juga membutuhkan orang lain dan ciptaan yang lain, karena itulah manusia dikatakan sebagai mahluk sosial. Maka sebagai mahluk sosial manusia haruslah memiliki sikap dasar yaitu sikap yang memandang orang lain juga merupakan suatu pribadi, sikap ini bisa dikatakan ialah sikap saling menghormati. Sikap saling menghormati ini merupakan langkah yang harus kita tempuh untuk mencapai penerimaan dari yang lain, yang berarti itu kemudian mengesahkan kita sebagai mahluk yang diterima, dihargai dan dibutuhkan oleh sesama ciptaan, disitulah peran kita sebagai manusia yang adalah mahluk sosial.

            Evaluasi :
            Kami telah memperkenalkan dalam beberapa uraian mengenai manusia yang dilihat dari buah pemikiran manusia itu sendiri, yaitu dari pandangan ilmu-ilmu filsafat, teori-teori oleh ahli atau ilmuwan dan juga kedudukan  manusia itu dalam lingkupan ilmu pengetahuan dan juga lingkungan sosialnya. Dalam bagian ini kami akan menguraikan siapakah sesungguhnya manusia itu dari sudut pandang teologis kristiani nan Alkitabiah. Dalam Alkitab manusia tidak dibicarakan secara tersendiri, disitu ia selalu dihubungkan dengan Allah.[7]
            Manusia, menurut kesaksian Alkitab adalah ciptaan Allah, ( Kej 1 : 27 ). Sebagai ciptaan Allah ia tidak sama dengan Allah. Manusia diciptakan sebagai mahluk. Walaupun demikian manusia tidak sama dengan mahluk yang lain, manusia tidak berasal dari binatang-binatang. Dalam Alkitab dikatakan bahwa manusia ditempatkan oleh Allah di atas mahluk-mahluk yang lain, yang berarti manusia itu diciptakan istimewa dan bukan sempurna. Sekarang kita bisa lebih memahami bahwa Allah yang datang ke dunia yang sudah Ia ciptakan lebih dulu, dan kemudian membentuk suatu mahluk yang bernama manusia dari debu dan tanah, yang kemudian nafas-Nya ( nafas kehidupan) sendiri dihembuskan kedalam manusia itu sehingga menjadi mahluk hidup.
            Alkitab bercerita tentang Alkitab dengan realistis, manusia dibuat dari debu dan tanah. Jadi bagaimanapun pandangan tentang manusia, kesaksian yang ada dalam Alkitab menurut kelompok kami adalah sebuah kesaksian yang riil. Dimana sesungguhnya kedalam kefanaan manusia Allah menghembuskan nafas hidup yang memampukan manusia untuk menjadi yang lebih istimewa dari ciptaan yang lain karena citera Allah ada dalam diri manusia.
            Tetapi dengan melihat kesaksian itu pula, hendaklah sebagai manusia kita wajib menyadari kefanaan kita, dari mana kita berasal, dan menggunakan nafas hidup yang telah dihembuskan itu dengan bijaksan. Jangan pernah ada anggapan bahwa kita adalah yang paling sempurna. Karena semua hal yang ada dalam diri kita pada saatnya nanti akan kembali bersama nafas hidup yang dihembuskan itu kepada pemiliknya yaitu Allah. Alkitab mengatakan hal itu “Dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan Roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya”  Pengkhotbah 12 : 7. Dengan demikian, berlaku bijaklah hidup sebagai manusia selagi nafas hidup itu masih ada pada kita.


[2] Bdk. Louis Berkhof, TEOLOGI SISTEMATIKA DOKTRIN MANUSIA (Jakarta : 1994, Lembaga Reformed Injili Indonesia ) hal 13.
[3] H. Enoch, Evolusi atau Penciptaan Hal. 87-88
[4] Bdk. Theo Huijbers, Manusia Merenungkan Dunianya, hal 40-43
[5] Ibid, 69
[6] Ibid, hal 43-44
[7] Bdk. CH ABINENO, Manusia dan Sesamanya Didalam Dunia, hal 33.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar